Oleh: agungh | November 20, 2008

Ber-EMPATI Itu Ternyata Susah Ya

Sejak membaca tulisa Andy F Noya tentang EMPATI beberapa waktu yang lalu, saya mencoba untuk selalu berempati dalam setiap aktivitas yang saya lakukan. Ternyata, berempati itu susah. Seringkali sifat egoisentris saya mengalahkan sifat empatisentris yang sudah saya canangkan.

Seperti hari ini, sifat empatisentris saya sudah digoda oleh egoisentris sejak baru keluar dari kompleks perumahan pagi hari. Saat keluar pintu gerbang perumahan, ada sebuah mobil yang nekat belok kanan, padahal jelas-jelas terdapat rambu larangan di jalan tersebut, karena memang jalur jalan tersebut searah. Saya tidak membayangkan andaikata saat itu ada mobil dari arah berlawanan, apa jadinya. Saya sempat melotot pada si sopir, tapi kemudian saya sadar bahwa saya ingin berempati. Saya kemudian menenangkan diri dan mencoba berempati pada si sopir, barangkali dia baru dan belum tahu daerah itu. Empati…empati…dan empati….

Beberapa saat setelah masuk ke jalan raya, saya harus belok kanan untuk mengambil jalur ke sekolah anak saya. Pertigaan ini memang seringkali macet di pagi hari, karena banyaknya angkutan kota yang berhenti menurunkan anak-anak sekolah. Belum lagi sepeda motor yang seringkali menyerobot jalan tanpa peduli terhadap pengguna jalan lainnya. Ujian empatisentris-pun diuji kembali.

Karena memang mau belok kanan, maka secara naluriah saya mengambil jalan agak ke kanan sambil menghidupkan lampu tanda belok kanan. Tapi, dasar sepeda motor, sudah tahu ada mobil mau belok kanan, tetap saja mereka menyerobot dari sebelah kanan. Dan yang menjengkelkan, mereka berhenti tepat di depan saya, karena memang jalur yang lurus sedang macet. Jadilah saya terjebak di antara sepeda motor. Secara refleks saya membunyikan klakson untuk menyuruh sepeda motor itu minggir, sekaligus ungkapan marah kepada si pengendara sepeda motor.

Tapi sekali lagi saya ingat bahwa saya ingin mengimplementasikan empati-isme. Saya harus tetap sabar dan mencoba memahami kelakuan si pengendara sepeda motor. Mungkin mereka sudah terlambat masuk kerja atau anak-anak mereka sudah hampir terlambat masuk sekolah.

Ada beberapa kejadian lagi yang memaksa saya untuk berempati hari ini. Ternyata berempati itu memang susah ya. Melakukan hal-hal kecil memang senantiasa dianggap remeh, sehingga seringkali diabaikan.

Inilah barangkali yang menyebabkan bagaimana negara kita saat ini terpuruk dan tercerai berai, karena kita tidak saling berempati satu sama lain. Rasanya nggak akan pernah ada tawuran antar mahasiswa, ribut-ribut hasil pilkada, proses salah tangkap, proses ganti rugi yang tidak diganti-ganti, korupsi, premanisme berjubah, kecelakaan, demontrasi anarkis, keributan antar suporter dan lain sebagainya, apabila kita semua melakukan ajaran EMPATI-isme.

Sayang sekali, proses pendidikan kita saat ini masih belum memasukkan pelajaran EMPATI-isme. Pendidikan kita masih berorientasi pada nilai-nilai di ijasah, bukan pada implementasi akhir di lapangan. Sepertinya mulai sekarang kita harus menyebarkan virus EMPATI-isme, seperti yang telah diajarkan oleh Andy F Noya.

azalea 17


Tanggapan

  1. salam kenal aja,


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.